Wednesday, September 23, 2009
Wednesday, September 16, 2009
Biaya Sekolah GRATIS!!!
GRATIS!!Kalo denger kata ini pasti semua orang pada seneng dan kepengen. Biaya pendidikan gratis bukan lagi sebuah wacana atau mimpi semata. Mulai tahun 2008 biaya pendidikan di tingkat SD dan SMP sudah "GRATIS". Sekarang para orang tua tidak perlu khawatir terhadap pendidikan anak-anaknya. Iuran seperti SPP bulanan, Buku Wajib, LKS, Ulangan tidak dipungut lagi dari orang tua. Untuk membiayai kegiatan operasional sekolah, pemerintah memberikan bantuan dana baik yang terdiri dari : 1. Bantuan Operasional Sekolah (BOS) yang berasal dari Pemerintah Pusat.
2. Bantuan Operasional Pendidikan (BOP) berasal dari Pemerintah Daerah.
Adapun tujuan Pemerintah pastinya berharap bahwa kualitas pendidikan di Indonesia semakin baik. Karena tidak ada lagi alasan bagi para Orang Tua untuk tidak menyekolahkan anak mereka kecuali MEREKA TIDAK PERDULI. Sehingga diharapkan generasi muda Indonesia kedepannya dapat memajukan negara ini baik secara nasional dan internasional. Namun ada beberapa hal yang kemudian menjadi menarik untuk saya utarakan di antaranya :
1. Tuntutan Laporan Keuangan yang Akuntabel dan Transparan

Dengan adanya dana BOP dan BOS sekolah sebagai penyelenggara pendidikan mau tidak mau harus menyajikan dan melaporkan Laporan Pertanggungjawaban Dana BOP & BOS setiap bulannya sesuai dengan pos" rekening yang telah ditentukan secara akuntabel dan transparan. Ketika ingin mengadakan kegiatan, panitia-Guru- diharuskan membuat yang disebut URK (Uraian Rencana Kegiatan). Kedua hal tersebut saat ini menjadi tugas yang cukup membuat sekolah kerepotan. Hal ini dikarenakan sebelum adanya hal tersebut, guru telah memiliki tugas yang cukup banyak mulai dari mengajar, administrasi pengajaran dan siswa, dll. Adapun saat in para Kepala Sekolah telah melakukan perekrutan pegawai Tata Usaha untuk menyelesaikan tugas administrasi dan membantu bendahara dalam menyajikan laporan keuangan. Namun demikian hal tersebut masih dianggap tidak cukup karena media dan teknologi yang ada masih minim sehingga TU dituntut untuk lebih kreatif dalam mencari solusi pekerjaan mereka. Sedangkan honor yang mereka terima masih kurang layak di era globalisasi seperti ini. Pihak sekolah bukan tidak ingin mesejahterakan pegawai honorer, namun keterbatasan dana yang mereka terima menjadi faktor utama. Kiranya menjadi perhatian pemerintah kedepannya terhadap nasib para Tata Usaha di lingkungan Sekolah Dasar Negeri di Indonesia khususnya DKI Jakarta. Karena saat ini dunia pendidikan dituntut untuk sadar teknologi agar mempermudah pekerjaan administrasi dan keuangan. Di samping itu di era globalisasi ini penting bagi siswa SD untuk mengenal teknologi dan dapat menggunakan teknologi tersebut. Saat ini hanya beberapa Sekolah Dasar Negeri yang telah memiliki Laboratorium Komputer dan Guru Komputer sendiri. Pengenalan dan pemahaman teknologi yang dimulai dari usia dini sangat bermanfaat besar bagi pengembangan wawasan siswa, namun hal ini pengawasan dari guru serta orang tua, mengingat teknologi memungkinkan kita untuk mengakses segala informasi, jangan sampai tujuan mulia ini berubah menjadi ancaman moril bagi para siswa.
2. Orang Tua menjadi "CUEK" terhadap prestasi Si Anak dan sulit bekerjasama dengan Sekolah

Bagaimana jika dilihat dari sisi para orang tua murid. Terkadang menjadi sebuah dilema memang, setelah adanya program Sekolah Gratis, perhatian orang tua kepada anaknya dan sekolah menjadi "seperti gratis" pula. Mungkin bagi sebagian orang tua, menganggap karena tidak adanya uang yang dikeluarkan maka mereka tidak lagi ambil pusing terhadap pendidikan anak mereka, karena mereka merasa tidak rugi jika anaknya tidak berprestasi. Sebuah paradigma yang menganggap keberhasilan pendidikan siswa adalah tanggung jawab Guru. Guru memang berkewajiban mencerdaskan kehidupan bangsa tapi apakah ini berarti orang tua tidak memiliki peranan sama sekali?? Ada oknum Kepala Sekolah yang selalu mengatakan kalimat ini setiap mengadakan pertemuan dengan orang tua murid "Jika seorang anak memiliki akhlak dan perilaku yang baik, ilmu akan mudah diterima oleh anak tersebut". Disini orang tua berperan, menciptakan akhlak dan perilaku baik serta sopan perlu diajarkan oleh orang tua sejak ia di kandungan. Dilihat dari waktu tatap muka dengan seorang anak, guru hanya bertatap muka sebanyak 5 jam/hari, sedangkan dengan orang tua 19 jam/hari, bukankah ini merupakan fakta yang sangat jelas mengenai peran orang tua?? Namun merubah paradigma bukanlah pekerjaan mudah, namun dengan komunikasi yang terus dibangun dan dijaga oleh Guru kepada Orang Tua Murid, Niscaya semunya akan menjadi kenyataan. Di samping masalah di atas, adalah hubungan Orang Tua Murid dengan sekolah yang kini dirasa menjadi rentan karena orang tua merasa tidak ada tanggung jawab finansial terhadap sekolah sehingga jika ada kegiatan yang tidak terdapat di APBS (Anggaran Pendapatan Belanja Sekolah) akan sangat sulit dilakasanakan karena tidak adanya sumber dana yang dapat diambil dari BOP&BOS, sedangakan jika dibuatkan edaran kepada orang tua, sekolah bisa dianggap "MEMUNGUT IURAN" padahal kegiatan tersebut dilaksanakan semata-mata untuk menunjang Kegiatan Pembelajaran di sekolah. Kedua masalah di atas mungkin akan menjadi perhatian sebagian besar Sekolah Dasar Negeri khususnya yang berada di lingkungan ekonomi menengah ke bawah, untuk hubungan dan kerja sama yang saling mendukung di antara sekolah dengan orang tua sebagaimana fungsinya masing-masing.
3. Sekolah Gratis, Orang Tua memberikan fasilitas HP yang berpengaruh negatif terhadap siswa SD.
Yang terakhir bagaimana bila dilihat dari sisi Peserta Didik. Yang menjadi perhatian saya saat ini, "Apakah dengan gratisnya biaya pendidikan berpengaruh besar terhadap minat belajar para siswa". Cukup menarik bila diangkat menjadi judul Tugas Akhir...Hehehe...Dari penglihatan dan pendengaran saya, saat ini kebanyakan guru mengeluh. Dari pengakuan mereka, minat para siswa semakin menurun. Mengapa hal ini terjadi? yang saya ungkapkan di point kedua, bahwa perhatian orang tua sangatlah kurang sehingga para siswa pun tidak termotivasi dan menjurus "LIAR". Terkadang menjadi pertanyaan di benak saya, banyak orang tua yang mengklaim dirinya "tidak mampu" namun mampu membelikan anak-anaknya HP?? Padahal untuk menggunakan HP diperlukan biaya pulsa yang rutin dan tidak sedikit, apakah ini merupakan perlaihan dana pendidikan yang sekarang sudah gratis?? Tapi bukan itu yang menjadi pokok permasalahannya, kepemilikan teknologi HP oleh seorang siswa memang sangat dibutuhkan namun ini untuk siswa yang menggunakan fasilitas antar jemput. Yang betul-betul terjadi adalah pemborosan dan pergaulan yang tidak sepantasnya. Dengan HP juga menjadi salah satu faktor berkurangnya minat belajar siswa SD di samping faktor utama yaitu Televisi. Jadi tidak heran banyak guru yang mengeluh mengenai minat belajar para siswa. Selain itu dari teknologi HP bisa masuk konten-konten yang "MEMBAHAYAKAN" perkembangan psikologis siswa SD-terutama HP dengan fitur bluetooth-. Teknologi diciptakan untuk mempermudah pekerjaan manusia bukan merusak jiwa manusia untuk itu perlu dilakukan pengawasan dalam menggunakannya khususnya konten-konten yang tidak dapat dikonsumsi oleh semua umur. Sungguh mengerikan dan menyedihkan namun inilah fakta yang tidak bisa dilihat sepele. Siapakah yang bertanggung jawab atas fenomena ini??? Orang tua?? Sekolah?? Pemerintah?? Saya hanya bisa mendoakan-sebagai tenaga kependidikan-agar pendidikan di Indonesia benar-benar bisa bangkit dan berkualitas. Semangat Para Pahlawan Tanda Tanpa Jasa. Semangat Anak-anak Murid Kami. Salam. Tulisan ini hanya sekedar media aspirasi saya. Mohon maaf bila terdapat kesalahan kata, kalimat, dsb. Save you-Simple Plan Lyric

I pull myself together
Just another step
Until I reach the door
You'll never know the way
It tears me up inside to see you (oh oh)
I wish that I could tell you something (oh oh)
To take it all away
Sometimes I wish I could save you
And there's so many things that
I want you to know
I won't give up 'til it's over
If it takes you forever
I want you to know
When I hear your voice
It's drowning in the whispers
You're just skin and bones
There's nothing left to take
And no matter what I do
I can't make you feel better (oh oh)
If only I could find the answer (oh oh)
To help me understand
Sometimes I wish I could save you
And there's so many things that
I want you to know
I won't give up 'til it's over
If it takes you forever
I want you to know that
If you fall, stumble down
I'll pick you up off the ground
If you lose
Faith in you
I'll give you strength to pull through
Tell me you won't give up
'Cuz I'll be waiting if you fall
You know
I'll be there for you
(Oh oh) If only I could find the answer
(Oh oh) To take it all away
Sometimes I wish I could save you
And there's so many things that
I want you to know
I won't give up 'til it's over
If it takes you forever
I want you to know
(Oh oh) I wish I could save you
(Oh oh) I want you to know
(Oh oh) I wish I could save you
dEngarkan Curhatku

Love is in its love.
not having anything 2 be my own.
Maybe the best i’ll do that just with the flow.
Within heart,still in reparation after hiding the feel.
story bout loverz 4 loves.
Meanings in lip.
One of hearts try 2 understand all.
Just be a wise but in fact, it causes the other .
In teenagers, still too young 2 be an adviser 4 u..
semua pu'a arTi sekalipun tu keCil

Cinta hadir di sebuah hari tanpa pelangi.
Ada seorang yang sungguh bagiku sama sekali tak berarti bagiku namun dia mengartikan dirinya begitu berarti untuk diriku.
Rasa bukan sebuah cinta tanpa ada waktu yang memberi sentuhan untuk mengetuk sebuah hati. Kita punya banyak kata cinta untuk setiap lelaki tapi hana ada satu cinta untuk satu lelaki dan kata setia hanya untuk dia yang tahu arti cinta..hati mu adalah rajamu…
Saturday, August 29, 2009
Siapa biLaNg HonoRer gAG menJanjikan!!!!

Sunday, August 2, 2009
Bagaimana menyelesaikan masalah tanpa menimbulkan masalah yang baru ?
Terinspirasi dari buku yang beberapa waktu lalu saya baca sehingga muncul keinginan untuk membuat sinopsis dari salah satu bab dalam buku tersebut. Sebuah buku karya Dale Carnegie (1995). Tulisan ini sebagai bentuk apresiasi saya terhadap karya Beliau yang sungguh membuat saya ingin lebih banyak lagi mengetahui seluk beluk ilmu psikologi, tentunya secara otodidak bukan secara formal.
Mempelajari manusia berbeda sekali dengan mempelajari benda mati. Hal ini mungkin disebabkan manusia memiliki perasaan yang berbeda dan bisa berubah sehingga perlakuan terhadap manusia akan sangat berbeda antara individu yang satu dengan yang lain. Dalam menghadapi orang lain kita diharuskan lebih hati-hati dalam bertutur kata maupun bertindak karena “karena sekali saja kita menyakiti hati orang lain, kita tidak akan pernah bisa memenangkan hatinya kembali”.
“I’m ordinary person”. Sebuah ungkapan yang tidak asing bukan. Ungkapan itu sangat penting dalam hidup saya agar bisa memposisikan diri saya dalam suatu lingkungan sosial dan diterima dengan baik. Setiap manusia pada hakekatnya memiliki kekurangan dan kelebihan, dimana menjadi kewajiban kita untuk menutupi kekurangan yang ada dengan cara yaitu mengembangkan semua potensi dan talenta di dalam diri kita dengan catatan bukan untuk tujuan menyombongkan diri. Saya percaya jika kita percaya diri dalam setiap kegiatan maka niscaya orang lain tidak akan berpikir untuk mencari kelemahan kita.
Dalam kehidupan sehari-hari, terkadang kita sering berselisih paham dengan orang lain bukan, dan tidak semua orang pandai dalam menyelesaikan masalah dengan prinsip win-win solution, bahkan sebaliknya terkadang justru masalah semakin keruh dan berakibat fatal. Apa yang menjadi penyebab hal tersebut?. Dari buku Dale Carnegie dijelaskan bahwa kebanyakan orang dalam menyelesaikan masalahnya dengan mengkritik orang yang menjadi sumber masalah. Padahal “dengan mengkritik akan melukai rasa kebanggaan seseorang dan justru akan membangkitkan rasa benci” (hal 26). Sifat dasar manusia adalah “hasrat untuk menjadi penting”. Lalu pertanyaannya “Bagaimana menyelesaikan masalah tanpa menimbulkan masalah yang lain”.
Beberapa waktu yang lalu, saya terlibat selisih pendapat dengan seorang sahabat yang saya sayangi dan kagumi dimana saya akui saya langsung mengkritik bahwa pendapatnya salah dan menyudutkannya. Seperti yang saya tulis di atas, perasaan sahabat saya tersebut terluka dan sampai saat ini saya kehilangan dirinya. Ya, saya menyesal melakukannya dan saya benar-benar tidak mengharapkan hasil akhir seperti itu. But show must go on and i know we both still loving as friend. Jika saya bisa mengulang waktu, pastinya saya ingin terlebih dahulu membaca buku Dale Carnegie ini sehingga saya bisa menyelesaikan masalah ini tanpa harus merusak hubungan kami sebagai sahabat. Tapi mungkin saya akan lebih berharap lagi bila masalah ini tidak perlu ada dan aku memiliki rasa pengertian sebagai sahabat yang lebih besar lagi.
Kesimpulan yang saya ambil, dalam menyelesaikan masalah, hal-hal yang mungkin bisa dipertimbangkan untuk dilakukan adalah sebagai berikut :
1. Ajaklah lawanmu (orang yang berselisih denganmu) duduk satu meja.
2. Ciptakan suasana santai dan bersahabat.
3. Mulai dengan sedikit obrolan basa-basi sambil mengatur nafas dan emosi.
4. Carilah hal-hal yang Anda sukai darinya sehingga Anda merasa bangga dan tertarik untuk melakukan diskusi pembicaraan dengannya. (membangkitkan minat orang lain untuk melakukan apa yang kita ingini tanpa tindakan paksaan).
5. Carilah hal-hal yang membuat kalian seia sekata sebagai teman, sahabat, partner kerja, dsb.
6. Selingi pembicaraan dengan sedikit lelucon untuk mencairkan ketegangan dan mengurangi rasa ingin mengkritik lawan bicara.
7. Mulailah mengutarakan hal-hal yang mengganjal hati Anda dan tanyakan pendapatnya. (Posisikan bahwa Anda sedang berselisih pendapat dengan orang lain bukan dengannya).
8. Dengarkan pendapatnya dan berikan penghargaan dengan memberi persetujuan terhadap pendapatnya tersebut.
9. Tanyakan tanggapannya jika Ia berada dalam posisi Anda dan tindakan apa yang akan dilakukan.
10. Jabat tangannya (berikan pelukan seorang teman, sahabat, keluarga jika anda berdua seorang perempuan) dan katakan bahwa “ Anda bangga menjadi sahabatnya dan ingin menjadi sahabat yang lebih pengertian ”.
Langkah-langkah di atas secara eksplisit tidak menunjukkan solusi terhadap masalah yang sedang mereka hadapi tetapi lebih menekankan tentang “Bagaimana kita bisa melihat masalah dari sisi pandang sumber masalah dan menerima pemikiran orang lain dan tidak memaksakan pemikiran kita. Sehingga tercipta hubungan yang saling menghargai terhadap masing-masing individu dan pendapatnya dan mendapatkan hasil akhir yang sungguh baik yaitu tidak adanya hati yang terluka dan hubungan Anda dengannya tidak terganggu atau mungkin lebih baik ke depannya. Tingakt keberhasilan langkh ini tergantung pada masing-masing individu tersebut.
Pertanyaan baru muncul di benak saya an mungkin Anda bisa merasakannya bahwa Apakah saya atau pembaca dapat dengan mudah mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari? Saya rasa memang bukan perkara yang mudah karena hal ini menyangkut karakteristik pribadi masing-masing individu tetapi ada satu ungkapan yang saya yakini yaitu : “People Change” so Nothing Impossible in this world. Semoga apa yang saya tulis ini bermanfaat bagi perkembangan jiwa saya dan semoga juga Anda.
Thanks to Dale Carnegie atas karyanya yang berjudul “ Bagaimana mencari kawan dan mempengaruhi orang lain” yang sudah mengubah cara pandang saya dalam menghadapi perilaku orang lain.
Monday, July 20, 2009
Dia...tEr...
Thursday, June 25, 2009
Idealisme itu mimpi
Kemana akan pergi bila sesungguhnya itulah yang paling dibutuhkan.
Berbagai kepentingan melemahkan sendi - sendi hati sampai tak nyeri lagi dirasa.
Pemikiran yang sejak kanak - kanak ditanamkan oleh Pahlawan Tanpa Tanda Jasa.
Katanya itu munafik, katanya itu mustahil, katanya itu bullshit
Seorang idealis bergeming sambil terus menggantungkan lamunannya
Tak lagi tempat disini...
Perlu menata hati tuk melangkah lagi
Jika mendua hati tak satu yang didapat
Biarkanlah idelisme ini kugantungkan di pelupuk sanubariku
Biar tak lagi ternoda..namun perjuanggannya harus menunggu hati..



