Terinspirasi dari buku yang beberapa waktu lalu saya baca sehingga muncul keinginan untuk membuat sinopsis dari salah satu bab dalam buku tersebut. Sebuah buku karya Dale Carnegie (1995). Tulisan ini sebagai bentuk apresiasi saya terhadap karya Beliau yang sungguh membuat saya ingin lebih banyak lagi mengetahui seluk beluk ilmu psikologi, tentunya secara otodidak bukan secara formal.
Mempelajari manusia berbeda sekali dengan mempelajari benda mati. Hal ini mungkin disebabkan manusia memiliki perasaan yang berbeda dan bisa berubah sehingga perlakuan terhadap manusia akan sangat berbeda antara individu yang satu dengan yang lain. Dalam menghadapi orang lain kita diharuskan lebih hati-hati dalam bertutur kata maupun bertindak karena “karena sekali saja kita menyakiti hati orang lain, kita tidak akan pernah bisa memenangkan hatinya kembali”.
“I’m ordinary person”. Sebuah ungkapan yang tidak asing bukan. Ungkapan itu sangat penting dalam hidup saya agar bisa memposisikan diri saya dalam suatu lingkungan sosial dan diterima dengan baik. Setiap manusia pada hakekatnya memiliki kekurangan dan kelebihan, dimana menjadi kewajiban kita untuk menutupi kekurangan yang ada dengan cara yaitu mengembangkan semua potensi dan talenta di dalam diri kita dengan catatan bukan untuk tujuan menyombongkan diri. Saya percaya jika kita percaya diri dalam setiap kegiatan maka niscaya orang lain tidak akan berpikir untuk mencari kelemahan kita.
Dalam kehidupan sehari-hari, terkadang kita sering berselisih paham dengan orang lain bukan, dan tidak semua orang pandai dalam menyelesaikan masalah dengan prinsip win-win solution, bahkan sebaliknya terkadang justru masalah semakin keruh dan berakibat fatal. Apa yang menjadi penyebab hal tersebut?. Dari buku Dale Carnegie dijelaskan bahwa kebanyakan orang dalam menyelesaikan masalahnya dengan mengkritik orang yang menjadi sumber masalah. Padahal “dengan mengkritik akan melukai rasa kebanggaan seseorang dan justru akan membangkitkan rasa benci” (hal 26). Sifat dasar manusia adalah “hasrat untuk menjadi penting”. Lalu pertanyaannya “Bagaimana menyelesaikan masalah tanpa menimbulkan masalah yang lain”.
Beberapa waktu yang lalu, saya terlibat selisih pendapat dengan seorang sahabat yang saya sayangi dan kagumi dimana saya akui saya langsung mengkritik bahwa pendapatnya salah dan menyudutkannya. Seperti yang saya tulis di atas, perasaan sahabat saya tersebut terluka dan sampai saat ini saya kehilangan dirinya. Ya, saya menyesal melakukannya dan saya benar-benar tidak mengharapkan hasil akhir seperti itu. But show must go on and i know we both still loving as friend. Jika saya bisa mengulang waktu, pastinya saya ingin terlebih dahulu membaca buku Dale Carnegie ini sehingga saya bisa menyelesaikan masalah ini tanpa harus merusak hubungan kami sebagai sahabat. Tapi mungkin saya akan lebih berharap lagi bila masalah ini tidak perlu ada dan aku memiliki rasa pengertian sebagai sahabat yang lebih besar lagi.
Kesimpulan yang saya ambil, dalam menyelesaikan masalah, hal-hal yang mungkin bisa dipertimbangkan untuk dilakukan adalah sebagai berikut :
1. Ajaklah lawanmu (orang yang berselisih denganmu) duduk satu meja.
2. Ciptakan suasana santai dan bersahabat.
3. Mulai dengan sedikit obrolan basa-basi sambil mengatur nafas dan emosi.
4. Carilah hal-hal yang Anda sukai darinya sehingga Anda merasa bangga dan tertarik untuk melakukan diskusi pembicaraan dengannya. (membangkitkan minat orang lain untuk melakukan apa yang kita ingini tanpa tindakan paksaan).
5. Carilah hal-hal yang membuat kalian seia sekata sebagai teman, sahabat, partner kerja, dsb.
6. Selingi pembicaraan dengan sedikit lelucon untuk mencairkan ketegangan dan mengurangi rasa ingin mengkritik lawan bicara.
7. Mulailah mengutarakan hal-hal yang mengganjal hati Anda dan tanyakan pendapatnya. (Posisikan bahwa Anda sedang berselisih pendapat dengan orang lain bukan dengannya).
8. Dengarkan pendapatnya dan berikan penghargaan dengan memberi persetujuan terhadap pendapatnya tersebut.
9. Tanyakan tanggapannya jika Ia berada dalam posisi Anda dan tindakan apa yang akan dilakukan.
10. Jabat tangannya (berikan pelukan seorang teman, sahabat, keluarga jika anda berdua seorang perempuan) dan katakan bahwa “ Anda bangga menjadi sahabatnya dan ingin menjadi sahabat yang lebih pengertian ”.
Langkah-langkah di atas secara eksplisit tidak menunjukkan solusi terhadap masalah yang sedang mereka hadapi tetapi lebih menekankan tentang “Bagaimana kita bisa melihat masalah dari sisi pandang sumber masalah dan menerima pemikiran orang lain dan tidak memaksakan pemikiran kita. Sehingga tercipta hubungan yang saling menghargai terhadap masing-masing individu dan pendapatnya dan mendapatkan hasil akhir yang sungguh baik yaitu tidak adanya hati yang terluka dan hubungan Anda dengannya tidak terganggu atau mungkin lebih baik ke depannya. Tingakt keberhasilan langkh ini tergantung pada masing-masing individu tersebut.
Pertanyaan baru muncul di benak saya an mungkin Anda bisa merasakannya bahwa Apakah saya atau pembaca dapat dengan mudah mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari? Saya rasa memang bukan perkara yang mudah karena hal ini menyangkut karakteristik pribadi masing-masing individu tetapi ada satu ungkapan yang saya yakini yaitu : “People Change” so Nothing Impossible in this world. Semoga apa yang saya tulis ini bermanfaat bagi perkembangan jiwa saya dan semoga juga Anda.
Thanks to Dale Carnegie atas karyanya yang berjudul “ Bagaimana mencari kawan dan mempengaruhi orang lain” yang sudah mengubah cara pandang saya dalam menghadapi perilaku orang lain.
No comments:
Post a Comment